Berita  

Fakta Baru Danau Toba: Ahli Jerman Bongkar Kesalahpahaman

Ahli Jerman Ungkap Fakta Baru Seputar Letusan Gunung Toba

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah penemuan mengejutkan terkait dengan Danau Toba mengubah pandangan selama ini tentang letusan Gunung Toba. Para peneliti dari Jerman mengungkap bahwa dampaknya terhadap Bumi dan manusia lebih kecil daripada perkiraan sebelumnya.

Jejak Letusan Gunung Toba

Peneliti dari Johannes Gutenberg University Mainz di Jerman, Jinheum Park, dan timnya mengungkap bahwa letusan Gunung Toba 74.000 tahun lalu hanya berlangsung selama 18 bulan, tidak seperti yang selama ini dipercayai menyebabkan musim dingin vulkanik yang panjang.

Letusan besar tersebut melepaskan sulfur dioksida ke stratosfer, yang kemudian menghasilkan aerosol sulfat yang memantulkan sinar matahari dan menyebabkan pendinginan global. Namun, dampaknya ternyata tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.

Rekonstruksi Iklim dari Danau Chala

Para ilmuwan menggunakan Danau Chala sebagai arsip iklim beresolusi tinggi untuk meneliti dampak letusan Gunung Toba. Mereka mengidentifikasi lapisan sedimen tahunan di danau tersebut dan menemukan bahwa diatom, organisme mikroskopis, mengalami stres akibat redupnya sinar matahari setelah letusan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa penurunan suhu regional hanya sekitar 0,5 derajat Celsius setelah letusan Gunung Toba. Penelitian ini juga membantu dalam memperkirakan waktu letusan dengan lebih presisi.

Meskipun letusan Gunung Toba memicu penurunan suhu dan kekeringan, namun dampaknya ternyata relatif kecil dan masih dalam kisaran variasi alami iklim. Wilayah Afrika Timur pada masa itu sedang menuju iklim yang lebih dingin dan kering, sehingga letusan Gunung Toba tidak mengancam kelangsungan hidup manusia secara signifikan.

Peneliti berharap metode yang sama dapat diterapkan untuk mempelajari dampak letusan supervolcano di lokasi lain di dunia.

Source link