Lubang ozon di atas Antartika pada 2025 tercatat sebagai salah satu yang terkecil sejak pengamatan dimulai pada 1992. Data pemantauan ilmuwan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan NASA menunjukkan, luas rata-ratanya mencapai 18,71 juta kilometer persegi sepanjang tahun tersebut.
Ukuran itu belum menjadi angka terkecil sepanjang sejarah pengamatan. Namun, para peneliti menilai kecenderungannya konsisten dengan proses pemulihan lapisan ozon setelah berbagai negara mengendalikan penggunaan bahan kimia perusak ozon.
Terbesar pada September, tetapi lebih kecil dari 2006
Lubang ozon mencapai luas maksimum pada 9 September 2025, yakni 22,86 juta kilometer persegi. Luas tersebut sekitar 30 persen lebih kecil dibandingkan pengamatan pada 2006 yang mencapai 26,60 juta kilometer persegi.
Paul Newman, ilmuwan dari University of Maryland sekaligus bagian dari tim penelitian ozon NASA, mengatakan pembentukan lubang ozon pada 2025 berlangsung lebih lambat dan berakhir lebih awal dibandingkan periode sebelumnya.
“Seperti yang diprediksi, kita melihat ozon cenderung mengecil dibandingkan awal 2000-an. Lubang-lubang itu terbentuk lebih lambat di musim ini dan pecah lebih awal,” kata Newman, dikutip dari laman resmi NOAA.
Temuan tersebut berkaitan dengan perkembangan setelah Protokol Montreal dibentuk pada 1992. Perjanjian internasional itu mengatur penghapusan secara bertahap bahan-bahan kimia yang merusak ozon. Menurut hasil pemantauan para peneliti, kadar senyawa perusak ozon di atmosfer terus menurun sejak mencapai puncaknya pada 2000.
Newman memperkirakan kondisi lubang ozon akan jauh lebih buruk apabila kadar klorin di atmosfer masih setinggi 25 tahun sebelumnya. “Lubang ini akan lebih besar dari satu juta mil persegi jika masih banyak klorin seperti 25 tahun lalu,” ujarnya.
Ancaman bahan kimia dan perubahan iklim
Klorin dan bromin dalam konsentrasi tinggi di atmosfer menjadi penyebab terkikisnya lapisan ozon. Ketika suhu sangat dingin, awan dapat membantu melepaskan bahan-bahan kimia tersebut sehingga proses perusakan ozon berlangsung lebih intensif.
Dalam laporan pada Oktober 2022, luas lubang ozon di Amerika Utara disebut mencapai 26,4 juta kilometer persegi. Martyn Chipperfield, ilmuwan atmosfer dari University of Leeds, ketika itu mengaitkan pendinginan di wilayah tersebut dengan perubahan iklim.
“Fakta stratosfer menunjukan tanda-tanda pendinginan akibat perubahan iklim menjadi perhatian,” kata Chipperfield.
Lapisan ozon berperan menyaring radiasi ultraviolet berbahaya dari Matahari. Jika lubangnya membesar, dampaknya dapat menjangkau kesehatan manusia dan lingkungan, termasuk meningkatkan risiko kanker kulit, mengganggu ketersediaan makanan, serta merusak tanaman.












