Berita  

Medan Magnet Bumi Berbalik, Suaranya Bikin Merinding

Suara medan magnet Bumi saat melemah sekitar 41.000 tahun lalu terdengar seperti kayu berderit, batu bergesekan, dan benturan keras. Rekonstruksi audio tersebut dibuat untuk menggambarkan perubahan dramatis yang terjadi ketika medan magnet Bumi mengalami pembalikan arah dalam peristiwa yang dikenal sebagai Laschamps excursion.

Para ilmuwan menyusun rekonstruksi itu menggunakan data satelit Swarm milik Badan Antariksa Eropa (ESA), yang dipadukan dengan jejak perubahan medan magnet pada batuan dan sedimen purba. Data tersebut kemudian diubah menjadi suara. Rekaman kayu berderit serta batu yang saling bertabrakan ditambahkan untuk menggambarkan gejolak medan magnet pada masa itu.

Medan magnet sempat melemah hingga 5 persen

ESA menjelaskan pada 2024 bahwa proses tersebut menyerupai penyusunan musik berdasarkan sebuah partitur. Dalam hal ini, “partitur” yang digunakan berasal dari aktivitas medan magnet Bumi 41.000 tahun silam.

Peristiwa Laschamps menyebabkan kekuatan medan magnet turun hingga sekitar 5 persen dari kondisi normal dan bertahan selama berabad-abad. Para peneliti memperkirakan perubahan menuju kondisi tersebut berlangsung sekitar 250 tahun. Dalam periode itu, kekuatan medan magnet kemungkinan sempat turun mendekati nol sebelum akhirnya menetap dalam orientasi berlawanan selama sekitar 440 tahun.

Medan magnet Bumi terbentuk akibat pergerakan logam cair di inti planet. Lapisan ini berperan melindungi atmosfer dari partikel berenergi tinggi yang dipancarkan Matahari. Ketika Laschamps berlangsung, catatan dari inti es dan sedimen laut menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat kadar berilium-10, isotop yang terbentuk ketika sinar kosmik menghantam atmosfer.

Peningkatan tersebut menjadi petunjuk bahwa lebih banyak radiasi kosmik berhasil menembus atmosfer selama medan magnet melemah. Data itu membantu ilmuwan memahami kondisi Bumi ketika perlindungan magnetiknya berada pada tingkat yang jauh lebih rendah.

Perubahan saat ini belum menunjukkan pembalikan kutub

Belum ada indikasi bahwa pembalikan medan magnet secara menyeluruh akan segera terjadi. Namun, medan magnet Bumi memang terus berubah. Kutub magnet utara saat ini bergerak dari Kanada menuju Siberia, sementara wilayah Anomali Atlantik Selatan mengalami pelemahan medan magnet.

Data satelit Swarm memperlihatkan wilayah anomali tersebut meluas antara 2014 dan 2025. Meski demikian, para ilmuwan menilai pelemahan di kawasan itu tidak otomatis menjadi tanda pembalikan kutub.

Chris Finlay, profesor geomagnetisme di Universitas Teknik Denmark yang memimpin studi pada 2025 mengenai pertumbuhan anomali tersebut, mengatakan Anomali Atlantik Selatan bukanlah satu wilayah yang mengalami perubahan secara seragam.

“Perubahannya berbeda di dekat Afrika dibandingkan di dekat Amerika Selatan. Ada sesuatu yang istimewa terjadi di wilayah ini yang menyebabkan medan magnet melemah dengan cara yang lebih intens,” kata Finlay.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa wilayah lemah dan berpindah seperti itu pernah muncul sebelumnya tanpa berujung pada peristiwa sebesar Laschamps. Karena itu, kondisi Anomali Atlantik Selatan belum dapat digunakan untuk memperkirakan kapan pembalikan kutub berikutnya akan terjadi.

“Memahami peristiwa ekstrem ini penting untuk mempelajari kemungkinan kejadiannya di masa depan, memprediksi cuaca antariksa, serta menilai dampaknya terhadap lingkungan dan sistem Bumi,” kata Sanja Panovska dari GFZ Potsdam, Jerman, yang merekonstruksi data medan magnet tersebut pada 2024.

Source link