Serangan siber dan ransomware yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) terus menyasar perusahaan di berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Dampaknya beragam, mulai dari pencurian data pasien dan pelanggan hingga terhentinya produksi, pemrosesan pesanan, manufaktur, dan pengiriman.
Gedung Putih pada Juli membentuk kelompok koordinasi yang melibatkan pengembang AI dan operator infrastruktur kritis untuk berbagi informasi mengenai kerentanan siber. Namun, belum ada perincian lanjutan mengenai langkah tersebut ketika serangan terhadap agen AI milik OpenAI dan Anthropic serta berbagai perusahaan besar terus bermunculan.
Serangkaian serangan sejak awal tahun
Dikutip dari Reuters, Kamis (24/9/2026), kelompok ransomware World Leaks pada 26 Januari mengklaim telah mempublikasikan 1,4 terabyte data Nike. Nike tidak mengungkapkan rincian investigasi atau status pembayaran tebusan. Dua hari kemudian, serangan serentak menargetkan Bumble, Match Group, dan Crunchbase. Panera Bread pada periode yang sama mengakui kebocoran informasi kontak dan melaporkannya kepada pihak berwenang.
Wynn Resorts melaporkan pencurian data karyawan pada 24 Februari dan menerima tuntutan tebusan senilai US$1,5 juta dalam Bitcoin. Pada 11 Maret, serangan yang diduga terkait Iran melumpuhkan pemrosesan pesanan, manufaktur, dan pengiriman Stryker, sekaligus merusak perangkat berbasis Windows. Sehari kemudian, peretas membobol Crunchyroll dan mencuri data pribadi serta 8 juta catatan tiket dukungan, termasuk 6,8 juta alamat email unik.
Hasbro mematikan sejumlah sistem jaringan pada 28 Maret setelah menemukan akses ilegal, dengan risiko penundaan pemenuhan pesanan hingga beberapa pekan. OpenAI pada 10 April menemukan celah setelah alat pihak ketiga, Axios, memicu alur kerja GitHub untuk mengunduh versi berbahaya. OpenAI menyatakan tidak ada data pengguna maupun kekayaan intelektual yang bocor.
Rockstar Games kemudian menghadapi klaim kelompok ShinyHunters yang menyebut telah mencuri hampir 80 juta catatan bisnis melalui celah penyedia analitik Anodot. Rockstar menyatakan data yang terdampak hanya bersifat non-material. Pada 4 Mei, West Pharmaceutical Services menghentikan sementara sistem operasional global setelah mengalami pencurian data dan penguncian sistem.
Data kesehatan dan layanan publik ikut terdampak
Peretasan yang dikaitkan dengan ShinyHunters pada 11 Mei membahayakan data siswa dari hampir 9.000 institusi yang menggunakan Instructure atau Canvas. Data itu disebut telah dihapus tanpa pembayaran tebusan. Blank Rome pada 21 Mei mengalami kebocoran setelah seorang staf menjadi korban phishing, yang membuat dokumen berisi data pribadi 57.554 klien terunggah. Carnival pada 27 Mei juga melaporkan pembobolan akun karyawan, termasuk kebocoran nomor identitas yang diterbitkan pemerintah.
Novo Nordisk menemukan pada 11 Juni bahwa data uji klinis pasien disalin tanpa izin dan menutup sementara sistem internal. Empat hari kemudian, iRhythm Holdings dan AdaptHealth menjadi korban rekayasa sosial pada aplikasi pihak ketiga, yang berujung pada pencurian data pasien dan tuntutan tebusan.
Kampanye peretasan massal terhadap perangkat firewall dan VPN Fortinet pada 17 Juni menjebol sekitar 75.000 sistem. Kata sandi perusahaan Fortune 500 dan lembaga pemerintah di lebih dari 15 negara turut dicuri.
Pada 16 Juli, akses ilegal menghentikan sementara produksi anak usaha Coca-Cola, Fairlife. Clover Health dan Abbott Laboratories mendeteksi akses ilegal ke sistem internal serta akun karyawan sehari kemudian, tetapi menyatakan tidak ada dampak material terhadap hasil keuangan.
Levi Strauss pada 7 Agustus melaporkan ekstraksi informasi korporat oleh pihak ketiga dalam gelombang serangan telepon terkoordinasi terhadap puluhan institusi keuangan dan bisnis AS. Pada 11 Agustus, Uber Freight mengalami insiden keamanan data pada sebagian sistem, tanpa mengganggu operasional pengiriman.
GE dan Fiserv pada 13 Agustus menjadi sasaran eksploitasi kerentanan perangkat lunak. Kelompok peretas mengklaim mencuri data dalam jumlah besar dari hampir 50 perusahaan global, termasuk Philips dan Shell. Apollo Global Management melaporkan pada 21 Agustus kebocoran data pribadi akibat akses tidak sah ke platform cloud sejak awal Juli.
Boston Scientific mengalami gangguan pada manufaktur dan pengiriman pada 26 Agustus, meski sebagian besar pengiriman telah pulih pada awal September. NovoCure Limited pada 1 September menemukan akses ilegal yang mengekspos ID internal dan data kontak lebih dari 1.400 pasien di AS. Kasus terbaru menimpa Astrana Health pada 23 September, ketika penyerang menyamar sebagai staf internal melalui spoofing nomor telepon untuk mengakses informasi rahasia perusahaan.












