Berita  

Evolusi Tubuh Gunung Anak Krakatau Selama 106 Tahun

Anak Krakatau kembali membangun tubuh gunungnya setelah sebagian besar sisi barat daya runtuh ke laut pada 22 Desember 2018. Penelitian lintas lembaga yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Birmingham, Institut Teknologi Bandung (ITB), Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat proses rekonstruksi itu masih berlangsung hingga 2026.

Keruntuhan tersebut mengubah Anak Krakatau secara drastis. Volume material yang jatuh ke laut diperkirakan mencapai 0,116 kilometer kubik. Ketinggian puncak gunung turun dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, sementara peristiwa itu juga memicu tsunami di Selat Sunda.

Dari erupsi bawah laut hingga kerucut setinggi 330 meter

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan Anak Krakatau terbentuk melalui rangkaian panjang pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Gunung api tersebut mulai muncul pada 1927, sebagai bagian dari pembangunan kembali sistem gunung api setelah Krakatau runtuh akibat erupsi 1883.

Pada tahap awal, pusat erupsi berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut. Pertemuan magma panas dan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan, yang ditandai ledakan uap, abu, dan material vulkanik. Endapan yang terus menumpuk kemudian membentuk daratan permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.

Sepanjang 1930-1959, aktivitas Anak Krakatau didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dengan air. Setelah kawah semakin terisolasi dari laut, pola erupsi pada periode 1959-2018 bergeser menjadi lebih dominan Strombolian-Vulcanian dan efusif. Material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava terus menambah volume tubuh gunung hingga ketinggiannya mencapai sekitar 330 meter.

“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” kata Dini dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/9/2026).

Tekanan magma berkurang, air laut kembali berperan

Runtuhnya sebagian tubuh gunung membuat tekanan pada saluran magma berkurang secara tiba-tiba. Air laut juga masuk ke kawah yang terbuka. Kombinasi perubahan itu mendorong pergeseran aktivitas dari erupsi Strombolian menjadi erupsi Surtseyan yang lebih eksplosif.

Perbandingan morfologi pada 2013, 2019, 2020, dan 2021 memperlihatkan perubahan tersebut. Kerucut yang sebelumnya tinggi berubah menjadi lebih rendah dan terbuka setelah keruntuhan, sebelum perlahan dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya.

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi. Aktivitasnya berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi air laut menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava. Material baru kemudian menumpuk di dalam kawah pascakolaps. Salah satu tahap pertumbuhan terlihat pada 2020, ketika lava terbentuk dan menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah keruntuhan.

Pertumbuhan berlangsung tidak simetris

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa pembangunan kembali Anak Krakatau tidak berlangsung merata di semua sisi. Gunung tersebut berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan yang berbeda. Sektor barat daya berada di atas lereng kaldera yang lebih curam, sedangkan sektor timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal.

Perbedaan kestabilan itu diperkuat oleh susunan material gunung. Endapan tuf dari fase awal cenderung ringan dan berpori, sementara sejak sekitar 1960 lava yang lebih padat mulai menumpuk di atasnya. Beban lava di atas material ringan, terutama pada lereng barat daya yang curam, berkaitan dengan ketidakstabilan lereng.

“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” ujar Dini.

Source link