Berita  

Pesawat Penyelamat NASA Jatuh ke Bumi, Ini Faktanya

Misi senilai US$30 juta untuk menyelamatkan teleskop Swift milik NASA berakhir setelah pesawat ruang angkasa Link terbakar saat memasuki atmosfer Bumi pada Jumat malam. Pesawat buatan Katalyst Space Technologies itu kembali ke Bumi kurang dari tiga bulan setelah diluncurkan, tanpa berhasil membawa Swift ke orbit yang lebih tinggi.

Laporan ABC News yang dikutip pada Senin (28/9/2026) menyebutkan, Link diluncurkan pada 3 Juli 2026. Pesawat tersebut dirancang untuk mendekati Swift, menangkapnya menggunakan lengan robotik, lalu mendorong teleskop itu ke orbit yang lebih tinggi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperpanjang masa operasi Swift selama beberapa tahun.

Rangkaian masalah sejak awal misi

Swift telah beroperasi sejak 2004 dan kini berusia 22 tahun. Orbitnya perlahan menurun karena aktivitas Matahari memanaskan atmosfer Bumi. Pemanasan itu meningkatkan tarikan atmosfer terhadap teleskop, sehingga Swift semakin dekat dengan permukaan Bumi.

Masalah pada Link mulai muncul sejak fase awal perjalanan. Dua dari tiga roda penggerak yang digunakan untuk mengarahkan pesawat mengalami kerusakan akibat gangguan pada sistem kelistrikan. Setelah itu, katup yang rusak membuat Link berputar cepat dan kehilangan komunikasi.

Kendali pesawat akhirnya dapat dipulihkan. Namun, bahan bakar yang terpakai selama menghadapi gangguan tersebut membuat sisa tenaga Link tidak lagi mencukupi untuk menyelesaikan operasi penyelamatan. Misi itu kemudian resmi dibatalkan pada Agustus 2026.

Meski target utama gagal dicapai, tim pengendali tetap menggunakan sisa waktu misi untuk menguji kemampuan Link. Lengan robotik sepanjang satu meter yang terpasang pada pesawat berhasil digerakkan. Link juga sempat mendekati Swift hingga jarak sekitar 12–15 kilometer dan mengambil foto teleskop tersebut.

Pelajaran untuk misi penyelamatan berikutnya

Chief Executive Officer Katalyst Space Technologies, Ghonhee Lee, mengatakan sejak awal tim menyadari bahwa operasi itu memiliki tingkat kesulitan tinggi dan jadwal yang ketat.

“Kami tahu sejak awal ini adalah misi yang sangat ambisius dengan jadwal yang ketat,” ujar Lee. “Pengalaman ini menjadi fondasi yang akan kami bangun untuk tugas penyelamatan satelit di masa depan.”

NASA juga menilai misi tersebut tetap memberikan pengalaman penting untuk operasi serupa. Shawn Domagal-Goldman dari NASA mengatakan tim telah berlatih untuk menjalankan proses sedini dan secepat mungkin.

“Kami berlatih bergerak secepat mungkin, dan pengalaman ini akan sangat berguna,” kata Domagal-Goldman.

Setelah Link berakhir, Swift diperkirakan jatuh kembali ke Bumi pada awal November 2026. Sampai saat itu, teleskop tersebut masih menjalankan pengamatan seperti biasa. Selama lebih dari dua dekade, Swift membantu memantau ledakan sinar gamma, ledakan bintang, serta berbagai peristiwa kosmik mendadak. Teleskop itu juga memberi peringatan kepada teleskop lain mengenai arah yang perlu diamati. Setelah Swift tidak lagi beroperasi, NASA perlu mencari cara untuk mengisi peran tersebut.

Source link