Jika seseorang menggali lubang lurus dari Indonesia menembus pusat Bumi, ia tidak akan keluar di Amerika Serikat seperti anggapan yang kerap muncul. Peta interaktif ThroughEarth menunjukkan, titik keluarnya justru tersebar di Amerika Selatan atau bahkan berada di tengah lautan, bergantung pada lokasi awal penggalian.
ThroughEarth memetakan titik antipode, yakni lokasi yang berada tepat berseberangan dengan suatu titik di permukaan Bumi. Sistemnya bekerja dengan mengubah tanda garis lintang menjadi negatif, kemudian menggeser garis bujur sejauh 180 derajat. Dengan cara itu, pengguna dapat melihat lokasi yang secara teoritis berada di sisi lain planet jika sebuah garis ditarik lurus menembus Bumi.
Dari Indonesia menuju Amerika Selatan
Pemetaan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia berhadapan dengan kawasan utara Amerika Selatan. Jika titik awalnya berada di Jakarta, ujung lubang secara teoritis akan muncul di suatu wilayah di Kolombia.
Wilayah lain memiliki titik antipode yang berbeda. Sebagian Sumatra berhadapan dengan Ekuador, sementara Kalimantan dan Sulawesi mengarah ke wilayah Brasil. Adapun jika penggalian dimulai dari Papua, titik keluarnya berada di Samudra Atlantik.
Gambaran ini sekaligus membantah anggapan bahwa menggali dari suatu negara akan otomatis membawa seseorang ke negara lain yang dikenal berada “di seberang” peta. Posisi antipode ditentukan secara presisi berdasarkan koordinat, sehingga hasilnya bisa berupa daratan, tetapi lebih sering justru lautan.
Mayoritas titik antipode berada di lautan
Menurut data yang ditampilkan, hanya sekitar 15 persen daratan di dunia yang memiliki daratan lain tepat di sisi berlawanan. Sebanyak 85 persen sisanya berhadapan dengan lautan.
Contohnya, lubang yang dimulai dari Los Angeles akan berakhir di Samudra Hindia, sekitar 1.530 kilometer dari daratan terdekat. Dari London, titik antipodenya berada di Samudra Pasifik bagian selatan, dekat Selandia Baru, tetapi tidak sampai menyentuh wilayah daratan. Sebaliknya, seseorang yang ingin keluar di Shanghai secara teoritis harus memulai penggalian dari Argentina.
Gagasan mengenai peta tersebut berawal dari percakapan Martin Krpelan bersama anak-anaknya di sebuah taman bermain. Pertanyaan sederhana tentang ke mana seseorang akan keluar jika menggali lurus menembus Bumi kemudian berkembang menjadi situs interaktif yang memvisualisasikan hubungan antara berbagai lokasi di permukaan planet.
Menembus Bumi masih mustahil dilakukan
Meski dapat dihitung melalui koordinat, perjalanan menembus Bumi belum pernah benar-benar dilakukan manusia. Lubang terdalam yang pernah dibuat adalah Kola Superdeep di Rusia dengan kedalaman sekitar 12 kilometer. Jarak tersebut baru sekitar 0,2 persen dari perjalanan menuju inti Bumi.
Suhu yang mencapai ribuan derajat Celsius dan tekanan yang sangat besar membuat upaya mencapai pusat Bumi hampir mustahil dilakukan. Karena itu, titik-titik keluarnya dalam peta ThroughEarth merupakan gambaran geografis secara matematis, bukan rute yang dapat ditempuh melalui penggalian nyata.












