Berita  

Warga RI Tak Percaya Media Sosial, Dinilai Rusak Negara

Pandangan warga Indonesia terhadap peran media sosial dalam demokrasi berubah cukup tajam dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan survei Pew Research Center yang mencakup 37 negara dan dirilis 1 Oktober 2026, porsi warga Indonesia yang menilai media sosial berdampak baik bagi demokrasi turun dari 64 persen pada 2023 menjadi 55 persen.

Pada periode yang sama, penilaian negatif meningkat dari 24 persen menjadi 43 persen. Kenaikan 19 poin persentase tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan perubahan pandangan paling besar, baik di kawasan Asia Tenggara maupun secara global, menurut laporan resmi Pew yang dikutip Jumat (2/10/2026).

Manfaat informasi berhadapan dengan risiko disinformasi

Survei itu memperlihatkan bahwa warga Indonesia belum sepenuhnya memandang media sosial sebagai ruang yang merugikan. Sebanyak 77 persen responden menyatakan media sosial membuat masyarakat lebih mengetahui peristiwa di sekitar mereka. Selain itu, 55 persen menilai platform tersebut memberi masyarakat suara yang lebih bermakna dalam kehidupan politik.

Namun, manfaat tersebut berjalan beriringan dengan kekhawatiran yang semakin kuat. Sebanyak 66 persen responden sepakat bahwa media sosial mempermudah penyebaran informasi menyesatkan untuk memengaruhi pandangan publik. Sebanyak 55 persen lainnya menilai media sosial justru memperlebar perpecahan pandangan politik di antara warga.

Temuan tersebut menempatkan masyarakat Indonesia pada posisi yang berlapis: media sosial tetap dianggap penting untuk memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam politik, tetapi dampak buruknya juga dinilai semakin terasa.

Perubahan di Indonesia lebih cepat dibandingkan negara tetangga

Dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara, peningkatan penilaian negatif di Indonesia terlihat menonjol. Di Malaysia, hanya 27 persen warga yang menilai media sosial berdampak buruk bagi demokrasi. Angka itu mencapai 22 persen di Singapura, 23 persen di Filipina, dan 21 persen di Thailand.

Sebaliknya, mayoritas warga di negara-negara tersebut masih melihat dampak positif media sosial. Penilaian positif mencapai 72 persen di Filipina, 71 persen di Thailand, 65 persen di Malaysia, dan 63 persen di Singapura. Indonesia masih memiliki mayoritas responden yang menilai dampaknya baik, tetapi penurunan persepsi positif dan kenaikan persepsi negatif berlangsung lebih cepat.

Secara global, rata-rata 55 persen warga dari 37 negara yang disurvei masih menilai media sosial baik bagi demokrasi, sedangkan 35 persen berpandangan sebaliknya. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, sikap negatif lebih dominan. Amerika Serikat menjadi salah satu contohnya, dengan 64 persen warga menilai media sosial merugikan demokrasi.

Perbedaan pandangan antargenerasi

Di Indonesia, kelompok usia muda cenderung lebih positif dibandingkan kelompok yang lebih tua. Perbedaan ini berkaitan dengan pengalaman menggunakan media sosial. Bagi generasi yang tumbuh bersama platform tersebut, media sosial lebih banyak dipandang sebagai sarana untuk berpartisipasi. Sementara itu, kelompok yang lebih dewasa cenderung lebih mengkhawatirkan perubahan suasana dan arus informasi yang berlangsung cepat.

Pergeseran penilaian di Indonesia terjadi ketika media sosial banyak digunakan dalam peristiwa politik dan pemilihan umum. Berita yang belum terverifikasi, narasi yang memecah belah, serta informasi menyesatkan disebut kerap muncul bersamaan dengan peristiwa-peristiwa penting tersebut.

Source link