Gunung berapi misterius yang meletus pada tahun 1831 telah ditemukan sebagai Zavaritskii yang terletak di pulau Simushir, kepulauan Kuril di Samudera Pasifik. Letusan gunung ini mengeluarkan banyak sulfur dioksida ke stratosfer, yang akhirnya mengakibatkan penurunan rata-rata suhu tahunan di bagian utara Bumi sebesar 1 derajat Celcius. Fenomena aneh dari letusan ini, seperti Matahari yang tampak berwarna biru, ungu, dan hijau, kemungkinan disebabkan oleh debu dan gas vulkanik yang memantulkan sinar Matahari secara tidak biasa.
Penelitian identifikasi gunung api ini dilakukan dengan mengambil sampel inti es di Greenland dan melakukan analisis geokimia, penanggalan radioaktif, serta pemodelan komputer untuk memetakan letusan tersebut. Meskipun informasi mengenai Zavaritskii sangat terbatas, namun peneliti menemukan kecocokan dengan pecahan kaca vulkanik dari gunung tersebut.
Sebelumnya, para peneliti memperkirakan bahwa gunung berapi misterius ini terletak di dekat ekuator, dengan salah satu kandidatnya adalah Babuyan Claro di Filipina. Selain itu, ditemukan bahwa tiga gunung api meletus secara bersamaan dengan Zavaritskii antara tahun 1808 dan 1835, menandai berakhirnya Zaman Es Kecil. Beberapa gunung api lain yang diidentifikasi termasuk Gunung Tambora di Indonesia tahun 1815 dan Coseguina di Nikaragua tahun 1835.
Peneliti dari School of Earth and Environmental Sciences di University of St. Andrews, William Hutchison, mengungkapkan bahwa pulau Simushir tempat Zavaritskii berada merupakan pulau terkecil antara Jepang dan Rusia, tanpa adanya penduduk dan catatan yang sangat terbatas mengenai gunung tersebut. Melalui penelitian ini, pengetahuan tentang letusan gunung berapi misterius pada 1831 semakin terungkap, menandai peristiwa penting dalam sejarah geologi Bumi.












