Malaysia diakui sebagai salah satu pusat data terkemuka di dunia. Namun, negara tetangga, Indonesia, semakin menunjukkan kesulitan dalam menghadapinya. Hal ini terjadi karena Malaysia harus berurusan dengan perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Akibatnya, Malaysia dipaksa oleh AS untuk melarang China menggunakan wilayahnya sebagai saluran untuk mengakses chip AI dari AS. Dampaknya, Malaysia kehilangan mitra dagang terbesar mereka.
Baru-baru ini, Malaysia mengumumkan aturan baru yang mengharuskan izin untuk aktivitas chip AS, termasuk yang dibuat oleh Nvidia. Aturan ini meliputi ekspor, pengiriman ulang, dan transit chip berkinerja tinggi. Ahli meyakini bahwa pengawasan terhadap chip akan terus meningkat karena Malaysia berusaha menyelesaikan kesepakatan perdagangan dengan AS.
Malaysia telah menarik perhatian sejumlah investor besar, seperti Microsoft, Amazon, Alphabet (induk perusahaan Google), serta perusahaan-perusahaan asal China seperti Tencent, Huawei, dan Alibaba. Mereka tertarik dengan fasilitas yang ditawarkan Malaysia, seperti harga tanah yang murah, biaya listrik rendah, dan permintaan AI lokal yang potensial.
Hingga Desember 2024, terdapat 12 pusat data dan operasional yang berlokasi di Johor, Malaysia dengan total kapasitas mencapai 369,9 mW. Menurut Knight Frank, akan ada tambahan 28 pusat data lagi dengan total kapasitas 898,7 MW. Johor telah berhasil menarik investasi sebesar 164,45 miliar ringgit (Rp 640 triliun) hingga kuartal kedua 2025, yang menyumbang 78,6% kapasitas operasional IT di seluruh dunia.
Telkom Indonesia (Persero) Tbk. juga menyatakan keinginannya untuk meningkatkan kontribusi bisnis data center pada pendapatannya menjadi 10 persen. Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Telkom pada Telkomsel. Telkomsel saat ini menyumbang sekitar 70 persen dari total pendapatan Telkom Group. Selain itu, Telkom mengalami pertumbuhan pendapatan bisnis data center yang kuat, mencapai 30 persen per tahun.
Telkom mengoperasikan 35 data center di dalam dan luar negeri, termasuk data center kapasitas besar atau hyperscale serta data center skala kecil di berbagai kota di Indonesia. Kontribusi pendapatan dari data center tidak hanya berasal dari penggunaan kapasitas, tetapi juga dari layanan konektivitas yang disediakan.












