Industri Teknologi Global Terpukul Akibat Konflik Iran-AS
Jakarta, CNBC Indonesia – Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah mulai memberikan tekanan besar pada industri teknologi global, terutama perusahaan semikonduktor yang menjadi tulang punggung kecerdasan buatan (AI). Beberapa perusahaan chip dunia telah mengeluhkan lonjakan biaya dan gangguan rantai pasok akibat konflik yang terus memanas di Timur Tengah. Hal ini terjadi meskipun reli AI masih berlanjut pada musim laporan keuangan terbaru.
Peringatan Dampak Konflik di Timur Tengah pada Industri Chip
Situasi konflik yang semakin meluas telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan menghambat rantai pasok yang sangat penting bagi sektor teknologi. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi kelangkaan helium, bahan penting dalam produksi chip, di tengah ketegangan antara AS dan Iran.
Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip terbesar di dunia, mengungkapkan bahwa Timur Tengah dapat berdampak negatif pada keuntungan perusahaan. Produsen chip untuk Nvidia itu telah memperingatkan bahwa harga bahan kimia dan gas tertentu kemungkinan akan mengalami kenaikan yang signifikan.
Foxconn, produsen elektronik kontrak terbesar di dunia, dan perusahaan chip asal Jerman, Infineon, juga menyuarakan kekhawatiran serupa terkait dampak konflik di Timur Tengah. Biaya logam mulia, energi, dan pengiriman diyakini akan naik sebagai akibat dari perang yang sedang berlangsung.
Analisis Mengenai Dampak Konflik pada Industri Chip
Analis dari IDC, Francisco Jeronimo, memberikan pandangannya terkait situasi ini. Menurutnya, perusahaan chip berpotensi mengalami kondisi yang lebih buruk dalam beberapa kuartal ke depan. Jeronimo juga menjelaskan bahwa meskipun terjadi gencatan senjata, kerusakan dalam rantai pasokan tidak bisa dipulihkan dengan cepat.
Gangguan rantai pasok dan lonjakan biaya energi menjadi ancaman utama bagi industri chip saat ini. Helium, yang merupakan komponen vital dalam manufaktur semikonduktor, diproduksi sebagai produk sampingan gas alam.
Qatar, sebagai pemasok helium terbesar kedua di dunia, dilaporkan mengalami gangguan ekspor akibat situasi di Timur Tengah. Selain helium, akses terhadap bahan penting lainnya seperti bromin dan aluminium juga terdampak.
Perusahaan chip di Eropa sudah mulai merasakan dampak langsung dari konflik ini, dengan membayar lebih mahal untuk bahan baku dan menggunakan stok cadangan karena gangguan dalam pengiriman udara.
Solusi Diversifikasi Rantai Pasok bagi Industri Chip
Di tengah kondisi yang meruncing ini, perusahaan chip saat ini terus mencari cara untuk mengurangi risiko. Taiwain SMC, misalnya, sedang membangun buffer penyimpanan dan memperluas sumber pemasok sebagai strategi diversifikasi rantai pasokan.












