Berita  

Ramalan RI Diterjang Suhu Super Panas Mendidih

Indikator El Niño Muncul, Indonesia Wajib Siapkan Langkah-Langkah Ini

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer menunjukkan kecenderungan berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua hingga akhir tahun 2026. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pemantauan laut dan atmosfer secara berkelanjutan guna memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi dampak iklim di Indonesia.

Mengutip pernyataan Profesor University of Maryland R. Dwi Susanto, berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang dapat mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur.

Kondisi Maritim Penting untuk Pemantauan El Niño

Dwi menjelaskan bahwa Indonesia berada di posisi strategis dalam sistem iklim global karena wilayahnya termasuk dalam western Pacific warm pool, yang dikenal sebagai wilayah dengan suhu permukaan laut tropis terhangat di dunia. Selain itu, Indonesia juga terhubung melalui jalur Indonesian Throughflow (Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, sehingga perubahan kondisi laut di Indonesia dapat menjadi indikator penting untuk memahami perkembangan El Niño.

Dampak El Niño dan Indian Ocean Dipole di Indonesia

Dampak El Niño terhadap Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra Pasifik, tetapi juga interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia. Dwi menekankan bahwa kombinasi kedua fenomena ini dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar ke Indonesia.

Ia memberikan contoh peristiwa 1997-1998 ketika El Niño kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif, yang menyebabkan penurunan curah hujan signifikan dan meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di Indonesia. Saat ini, sejumlah model prediksi mengindikasikan peluang berkembangnya El Niño pada akhir 2026 dengan kecenderungan kategori kuat hingga sangat kuat.

Indonesia perlu melakukan berbagai langkah mitigasi sejak dini, seperti pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, tanpa menimbulkan kepanikan.

Source link