Berita  

Pantai Utara Jawa Tenggelam: Wilayah Sudah Parah

Erosi Pantai Ancam Pantura Jawa

Jakarta, CNBC Indonesia – Erosi pantai menjadi ancaman nyata bagi kawasan Pantura Jawa. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat hampir dua pertiga garis pantai yang membentang dari Kabupaten Serang hingga Kabupaten Situbondo terdampak abrasi, dengan cakupan mencapai 65,8%.

Pembangunan Masif di Pantura Berdampak Negatif

Tingginya tingkat abrasi tersebut menyebabkan penurunan kualitas lingkungan pesisir, sekaligus meningkatkan risiko hilangnya kawasan tempat tinggal warga dan kerusakan infrastruktur ekonomi setempat. Data riset oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, mengungkap fakta ini dalam acara Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) dan Focus Group Discussion (FGD) di Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

“Jadi, 84% Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan,” paparnya, dikutip Jumat (19/6/2026).

Perubahan Garis Pantai Meningkat, Anomali di Delta

Kondisi morfologis Pantai Utara Jawa dan perubahan garis pantainya menjadi perhatian utama. Analisis menggunakan Citra Satelit Sentinel menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, dengan laju erosi mencapai 65,8% dan tingkat akresi hanya 34,2%. Erosi masif terjadi di lingkungan delta, yang seharusnya merupakan area sedimentasi. Aktivitas modifikasi di daerah hulu berkontribusi pada masalah ini, seperti kanalisasi dan pembangunan bendungan.

Dampak dari erosi ini cukup signifikan di sejumlah wilayah seperti Tanjung Pontang, Serang, dan Pantai Bahagia, Muara Gembong. Air laut telah merangsek masuk ke daratan, merendam tambak warga dan infrastruktur publik secara permanen.

Kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah juga membuat situasi semakin rumit. Data pemodelan menunjukkan kenaikan muka air laut rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun di Pantura Jawa, sementara penurunan muka tanah disorot terutama di Demak, Jakarta, Sidoarjo, dan daerah lainnya.

Pantura Jawa menghadapi krisis nyata, bukan hanya persoalan lokal, melainkan juga nasional, mengingat pentingnya kawasan ini bagi perekonomian Indonesia.

Source link