Banyak Perusahaan Justru Kembali Merekrut Karyawan Meski Sudah Pakai AI
Banyak perusahaan kini mulai mengubah strategi penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mereka. Setelah sebelumnya memangkas tenaga kerja dan menggantinya dengan AI, kini sejumlah perusahaan justru kembali merekrut karyawan karena menyadari teknologi tersebut belum mampu menangani seluruh pekerjaan secara optimal.
Perubahan sikap ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan masifnya penggunaan AI yang selama ini mendorong pasar keuangan.
Ford dan Perusahaan lain Koreksi Strategi Perekrutan karena AI
Salah satu perusahaan terbaru yang mengambil langkah tersebut adalah produsen mobil Ford. Ford dilaporkan kembali mempekerjakan ratusan insinyur berpengalaman untuk menangani berbagai persoalan kualitas produk yang gagal diselesaikan oleh sistem otomatis berbasis AI.
Ford bukan satu-satunya perusahaan yang mengoreksi strategi perekrutannya. Commonwealth Bank of Australia (CBA) dan raksasa perangkat lunak IBM juga kembali menaruh fokus pada tenaga kerja manusia setelah menghadapi keterbatasan AI.
Kasus CBA dan IBM
Tahun lalu, CBA memutuskan memberhentikan lebih dari 40 pegawai layanan pelanggan dan menggantikan mereka dengan bot suara berbasis AI. Namun, sistem tersebut ternyata tidak mampu menangani seluruh kebutuhan nasabah sehingga justru menyebabkan lonjakan panggilan masuk. Kondisi itu akhirnya memaksa CBA membatalkan pengurangan tenaga kerja tersebut.
Kasus serupa juga terjadi di IBM. Perusahaan menggantikan sebagian besar fungsi sumber daya manusia (HR) dengan AI yang mampu menangani sekitar 94% permintaan rutin. Namun, AI gagal menyelesaikan 6% kasus lainnya, terutama yang berkaitan dengan dilema etika. Akibatnya, IBM mengumumkan rencana untuk melipatgandakan hingga tiga kali lipat perekrutan karyawan level pemula di seluruh unit bisnisnya di Amerika Serikat pada 2026.
Fenomena ini sejalan dengan pandangan sejumlah analis yang menilai strategi menggantikan manusia sepenuhnya dengan AI belum tentu menjadi jalan terbaik untuk mendorong pertumbuhan bisnis.
Catatan Penting
Menariknya, di antara perusahaan yang mendorong otomatisasi, banyak yang kemudian menyesali PHK tersebut karena mereka justru memberhentikan orang-orang yang dibutuhkan untuk mengawasi AI.
Sementara itu, data perusahaan rekrutmen Robert Half menunjukkan bahwa banyak manajer perekrutan di Amerika Serikat mengaku pernah menghapus suatu posisi kerja karena AI, tetapi kemudian kembali merekrut orang untuk posisi yang sama atau serupa.
Capitol Technology University menyimpulkan bahwa AI memang mengubah dunia kerja, tapi perusahaan kini melihat nilai yang lebih besar dari kolaborasi antara manusia dan AI dibandingkan menggantikan pekerjaan manusia sepenuhnya.












