Penelitian Terbaru: Bumi Berpeluang Selamat dari Nasib Bersama Matahari
Jakarta, CNBC Indonesia – Selama puluhan tahun, para astronom memperdebatkan apakah nasib Bumi akan berakhir bersama Matahari. Ketika Matahari kehabisan hidrogen sekitar 5 miliar tahun lagi, bintang tersebut diperkirakan akan mengembang menjadi raksasa merah yang cukup besar untuk menelan Merkurius, Venus, dan kemungkinan Bumi. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada Juni menunjukkan bahwa peluang Bumi untuk lolos dari akhir yang mengerikan itu ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
Temuan Penelitian Baru
Peneliti menggunakan model terbaru tentang interaksi bintang yang menua dengan planet-planet di sekitarnya. Hasilnya menunjukkan bahwa gaya gravitasi yang menarik Bumi ke arah Matahari yang mengembang ternyata lebih lemah dibandingkan prediksi model lama. Kondisi tersebut memberi Bumi lebih banyak waktu untuk bergerak menjauh ketika Matahari mulai melepaskan lapisan luarnya ke ruang angkasa. Meski demikian, temuan ini belum menjamin Bumi pasti selamat.
Keseimbangan Efek Pasang Surut dan Hilangnya Massa Bintang
Penulis utama studi, Mats Esseldeurs dari KU Leuven Institute of Astronomy di Belgia, mengatakan ketidakpastian terbesar kini bukan lagi berasal dari perhitungan gaya pasang surut. Menurut dia, pengamatan terhadap bintang raksasa yang mirip Matahari saat ini mengarah pada kemungkinan Bumi dapat bertahan, meski pengamatan yang lebih baik masih diperlukan. Dalam fase raksasa merah, Matahari akan mengalami dua proses yang saling bersaing. Gaya pasang surut gravitasi menarik planet ke arah dalam, sementara hilangnya massa bintang akibat angin bintang yang kuat mendorong planet bergerak ke orbit yang lebih jauh.
Esseldeurs menjelaskan bahwa nasib Bumi bergantung pada keseimbangan kedua efek tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Merkurius dan Venus tetap tidak mampu menghindari Matahari yang mengembang sehingga keduanya dipastikan akan tertelan. Sebaliknya, Bumi dan Mars diperkirakan dapat bertahan melewati fase raksasa merah dan akhirnya mengorbit lebih jauh mengelilingi sisa Matahari yang berubah menjadi katai putih.
Pentingnya Penelitian
Para peneliti berharap pengamatan terhadap bintang-bintang mirip Matahari yang sedang sekarat dapat memperjelas masa depan sistem Bumi-Matahari. Meski manusia kemungkinan tidak akan menyaksikan peristiwa tersebut, penelitian ini dinilai penting untuk memahami bagaimana sistem planet berevolusi ketika bintangnya menua. Walau begitu, bagi manusia, solusi praktis untuk mengatasi panas Matahari yang semakin meningkat belum ditemukan, sehingga Bumi diperkirakan tidak akan layak huni sekitar 1 miliar tahun ke depan.
(dem/dem)












