Xiaomi Alami Penurunan Laba Kuartal Ke-3, Tanggung Krisis Chip
Jakarta, CNBC Indonesia – Kinerja bisnis Xiaomi kembali merosot dengan catatan penurunan laba untuk kuartal ketiga berturut-turut, disebabkan oleh krisis chip memori global yang berkepanjangan.
Laba bersih Xiaomi turun 43% menjadi 6,22 miliar yuan (sekitar Rp 16 triliun) pada kuartal II 2026. Penurunan ini lebih dalam dari perkiraan pasar, sementara pendapatan Xiaomi turun 6,1%.
Penyebab Krisis dan Dampaknya pada Bisnis Xiaomi
Krisis chip memori global menjadi faktor utama penurunan pendapatan Xiaomi, di mana perusahaan terdampak akibat kelangkaan chip memori konvensional karena pemasok chip lebih memprioritaskan produksi chip canggih untuk kebutuhan pusat data dan kecerdasan buatan (AI).
Hal ini mengakibatkan Xiaomi harus menahan penurunan pendapatan dengan mengurangi pengiriman ponsel kelas menengah hingga bawah, meskipun kenaikan harga jual rata-rata hanya sedikit mengurangi tekanan.
Xiaomi Menghadapi Tantangan Besar pada Ekspansi Kendaraan Listrik
Di tengah tekanan bisnis smartphone, Xiaomi kini berfokus pada ekspansi ke pasar kendaraan listrik. Namun, langkah ini juga menekan laba perusahaan akibat kompetisi yang ketat di pasar kendaraan listrik China, terbukti dari penjualan kendaraan hybrid bensin-listrik yang di bawah ekspektasi.
Tantangan yang dihadapi Xiaomi dalam ekspansi ini antara lain tarif, pengawasan regulator, dan standar keselamatan kendaraan yang lebih ketat.
Di sisi lain, investor masih memberikan respons relatif positif terhadap prospek Xiaomi meskipun laba dan penjualan smartphone mengalami penurunan. Saham perusahaan di Hong Kong telah naik sekitar 20% sejak akhir Juni, menunjukkan kepercayaan investor terhadap pertumbuhan Xiaomi, meski dengan tantangan yang harus dihadapi.












