Berita  

Ilmuwan Jepang Ungkap Wilayah RI Paling Rawan Megathrust

Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat 14 zona megathrust di Indonesia, bertambah dibandingkan peta yang diterbitkan pada 2017. Peta tersebut juga memperlihatkan sejumlah wilayah dengan tingkat bahaya lebih tinggi, ditandai kontur potensi gempa yang semakin rapat.

Dua zona yang mendapat perhatian khusus adalah Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut keduanya masih berada dalam kondisi seismic gap karena telah ratusan tahun tidak mengalami pelepasan energi besar. Gempa besar terakhir di Selat Sunda tercatat pada 1757, sedangkan Mentawai-Siberut pada 1797.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa penyebutan kedua wilayah tersebut sebagai zona yang “menunggu waktu” bukanlah prediksi mengenai kapan gempa akan terjadi.

“Yang dimaksud adalah akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Peta terbaru mencatat potensi magnitudo besar

Dalam peta 2024, Megathrust Aceh-Andaman memiliki potensi gempa terbesar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,2. Megathrust Jawa berada sedikit di bawahnya, dengan potensi hingga magnitudo 9,1.

Adapun zona Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,9. Data tersebut menggambarkan besarnya sumber gempa yang berada di sepanjang wilayah subduksi Indonesia, meski tidak menentukan waktu terjadinya gempa.

Kondisi geologi Indonesia itu turut menjadi perhatian Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, Jepang. Saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025, Heki melihat adanya kesamaan karakteristik antara wilayah Indonesia dan Nankai Trough di Jepang, salah satu kawasan megathrust dengan aktivitas tinggi.

“Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar,” ujar Heki.

Pemantauan deformasi kerak bumi menjadi kunci

Menurut Heki, waktu terjadinya gempa besar belum dapat diprediksi. Karena itu, pemantauan deformasi kerak bumi dalam jangka panjang dinilai penting untuk memperkuat mitigasi bencana. Ia menyoroti penggunaan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut untuk memantau penumpukan tegangan di zona subduksi.

“Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelasnya.

Heki juga menyebut slow slip event atau pergeseran lambat sebagai fenomena yang perlu diamati. Pergerakan tersebut berlangsung perlahan dan telah berulang kali terdeteksi di Nankai Trough serta sejumlah wilayah lain di Jepang. Menurut dia, salah satu peristiwa itu berpotensi memicu gempa besar berikutnya.

“Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya,” katanya.

Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan sistem pemantauan serupa karena zona subduksi aktif tersebar dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku. Penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut diharapkan dapat membantu membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi.

“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ujar Heki.

Source link