Berita  

Kisah Nabi Musa Membelah Laut Merah dalam Kajian Sains

Peristiwa Nabi Musa membelah Laut Merah yang diyakini terjadi sekitar 3.500 tahun lalu tidak hanya menjadi bagian dari kisah keagamaan. Sejumlah peneliti dan oseanograf mencoba menjelaskan kemungkinan mekanisme alam di baliknya, mulai dari anomali cuaca, kondisi dasar laut, hingga perhitungan pasang surut.

Salah satu kajian menggunakan pemodelan komputer untuk menguji dampak angin berkecepatan tinggi terhadap perairan dangkal. Hasilnya, hembusan angin badai sekitar 100 kilometer per jam dari arah tertentu dinilai mampu mendorong massa air dan membuka jalur selebar 5 kilometer. Ketika angin melemah, air dapat kembali mengalir deras ke jalur tersebut.

Teluk Suez Dinilai Lebih Memungkinkan

Perdebatan mengenai lokasi penyeberangan menjadi bagian penting dalam upaya menjelaskan kisah tersebut secara ilmiah. Tradisi selama ini kerap mengaitkan peristiwa itu dengan Teluk Aqaba, yang memiliki kedalaman hingga 1.850 meter. Namun, riset arkeologi dan oseanografi modern yang disebut dalam kajian tersebut mengarah ke Teluk Suez.

Teluk Suez memisahkan daratan Mesir dan Semenanjung Sinai. Kedalamannya rata-rata sekitar 20 hingga 30 meter, dengan dasar laut yang relatif datar. Karakteristik ini dianggap lebih memungkinkan untuk terbentuknya jalur sementara akibat dorongan angin dibandingkan perairan laut dalam.

Catatan sejarah yang dikutip dalam kajian itu juga menyebut peristiwa pada 1789, ketika Napoleon Bonaparte memimpin pasukan berkuda menyeberangi Teluk Suez saat air laut surut. Namun, pasukannya hampir tersapu ketika air pasang setinggi 3 meter kembali menerjang jalur penyeberangan.

Angin dan Pengetahuan tentang Pasang Surut

Profesor Nathan Paldor, pakar oseanografi dari Hebrew University of Jerusalem, memperkirakan angin barat laut berkecepatan 65-70 kilometer per jam yang bertiup semalaman dapat menurunkan permukaan air hingga 3 meter. Kondisi itu berpotensi menyingkap punggungan bawah laut sehingga dapat dilalui dengan berjalan kaki.

Penjelasan lain menempatkan pengetahuan mengenai siklus pasang surut sebagai faktor penting. Bruce Parker, mantan kepala ilmuwan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mengatakan Nabi Musa mungkin mengetahui waktu dan lokasi yang tepat untuk menyeberang.

“Musa pernah tinggal di padang gurun sekitar wilayah itu, ia tahu lokasi kafilah menyeberang saat air surut. Ia juga paham langit malam serta metode kuno untuk memprediksi pasang surut, berdasarkan posisi bulan dan fase purnamanya,” kata Parker dalam tulisannya di Wall Street Journal.

Menurut penjelasan tersebut, pengetahuan itu memungkinkan penyeberangan dilakukan ketika air berada pada kondisi surut. Sebaliknya, pasukan Firaun yang terbiasa dengan lingkungan Sungai Nil disebut tidak menghadapi fenomena pasang surut seperti di laut. Mereka kemudian terjebak ketika air kembali naik dengan cepat.

Carl Drews, oseanografer dari National Center for Atmospheric Research, menyebut fenomena itu sebagai perpaduan antara kekuatan alam dan ketepatan momentum. Ia juga menegaskan bahwa penjelasan ilmiah tidak harus bertentangan dengan keyakinan spiritual. Bagi Drews, keduanya dapat berjalan beriringan dalam memaknai peristiwa alam yang dikaitkan dengan kisah Nabi Musa.

Source link