Ledakan bisnis kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengerek valuasi perusahaan teknologi. Kekayaan para pemiliknya ikut melesat, sementara masyarakat luas menghadapi risiko pemutusan hubungan kerja, kenaikan tarif listrik, dan tekanan terhadap pasokan air.
Laporan UBS yang dirangkum Financial Times mencatat jumlah miliarder dunia meningkat 13 persen dalam periode April 2025 hingga April 2026. Jumlahnya mencapai rekor 3.302 orang, dengan kekayaan bersih sedikitnya US$1 miliar.
Lebih dari 1.000 miliarder tersebut bermukim di Amerika Serikat. Secara gabungan, kekayaan mereka meningkat rata-rata 25 persen, jauh di atas pertumbuhan kekayaan pribadi global yang tercatat 10,8 persen. Kenaikan itu terutama didorong oleh lonjakan valuasi perusahaan AI dan semikonduktor.
Miliarder AI memburu kemewahan yang lebih personal
Pertumbuhan kekayaan tersebut turut mengubah pola belanja kalangan superkaya. Para miliarder baru dari sektor AI tidak berhenti pada kepemilikan rumah mewah. Mereka juga memesan superyacht, jet pribadi, serta mobil dengan spesifikasi khusus.
Wakil Direktur FlyVictor, Toby Edwards, mengatakan standar kemewahan lama seperti sampanye dan kaviar tidak lagi menjadi permintaan utama. Para pelanggan dari industri AI justru lebih sering meminta hal-hal yang sangat spesifik, termasuk jenis air minum tertentu dan menu makanan sehat.
“Mereka menyewa jet pribadi demi efisiensi dan kerahasiaan, bukan untuk pamer,” ujar Edwards, dikutip dari laporan tersebut.
Konsultan perjalanan mewah Paul Charles mengatakan kemunculan orang-orang kaya baru dari dunia AI telah menciptakan gelombang permintaan bagi penyedia jet pribadi, yacht, dan mobil mewah.
“Konsep pelanggan yang cermat memilih kini sudah kuno. Perusahaan-perusahaan harus beradaptasi melayani generasi pelancong mewah baru yang lahir dari kekayaan AI ini,” kata Charles.
AI menekan pekerjaan dan upah
Di tengah akumulasi kekayaan itu, adopsi AI juga mulai memberi dampak negatif terhadap pasar kerja. Survei S&P Global pada 2026 menunjukkan, dalam 12 bulan terakhir, jumlah perusahaan yang melaporkan pengurangan tenaga kerja akibat AI lebih banyak lima poin persentase dibandingkan perusahaan yang menambah pegawai. Kesenjangan tersebut diperkirakan melebar dua poin lagi pada tahun depan.
AI generatif dan sistem yang semakin mandiri kini dinilai mampu mengambil alih rangkaian pekerjaan secara menyeluruh, bukan sekadar menjadi alat bantu. Lulusan baru, staf administrasi, pembuat konten, dan pekerja kreatif disebut sebagai kelompok yang paling rentan.
Bank of America memperingatkan, kemunculan “agen AI” yang dapat bekerja tanpa pengawasan manusia berpotensi memicu pengurangan tenaga kerja dalam skala lebih besar dibandingkan gelombang sebelumnya. Bahkan ketika perusahaan tetap mempertahankan pekerja, AI cenderung menekan upah dan mengalihkan keuntungan kepada pemilik modal, termasuk miliarder teknologi.
Beban energi dan air ikut meningkat
Ekspansi AI juga membutuhkan energi dalam jumlah besar. Pusat data berukuran biasa dapat mengonsumsi listrik setara dengan kebutuhan 100.000 rumah tangga. Pada 2028, pusat data diperkirakan menyerap 12 persen dari total konsumsi listrik Amerika Serikat.
Penelitian Universitas Carnegie Mellon memperkirakan pembangunan pusat data dapat mendorong kenaikan tagihan listrik warga di wilayah sekitarnya hingga 25 persen atau lebih. Beban tersebut tidak sepenuhnya ditanggung perusahaan, melainkan dapat dialihkan kepada pelanggan rumah tangga melalui kenaikan tarif.
Kebutuhan air untuk mendinginkan mesin AI juga menjadi persoalan. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan konsumsi air yang berkaitan dengan AI pada akhir dekade ini akan setara dengan kebutuhan dasar air minum 1,3 miliar orang. Di sejumlah wilayah, perusahaan AI bahkan membutuhkan jutaan liter air setiap hari, sehingga warga harus berbagi pasokan yang semakin menipis.












