Berita  

Satelit Mata-Mata AS Tiba-Tiba Meledak di Langit

Satelit intelijen Amerika Serikat (AS) USA-32 pecah di orbit rendah Bumi atau low-Earth orbit (LEO) pada 13 September pukul 17.13 waktu Eastern Time (ET). Peristiwa yang dikategorikan sebagai fragmentation event itu menghasilkan sejumlah serpihan yang kini dipantau oleh U.S. Space Force.

Sistem pelacakan milik Space Force mengonfirmasi bahwa objek tersebut terpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Penyebabnya belum diketahui. Space Force menyatakan belum menemukan ancaman langsung terhadap pesawat antariksa lain dari puing-puing tersebut, meski serpihan di orbit tetap berpotensi membahayakan satelit atau objek antariksa lain pada masa mendatang.

Satelit rahasia era Perang Dingin

USA-32 diluncurkan pada 5 September 1988 menggunakan roket Titan II SLV. Satelit itu merupakan bagian dari program rahasia National Reconnaissance Office (NRO), lembaga yang menjalankan misi intelijen berbasis antariksa untuk kepentingan militer AS.

Dalam program rahasia tersebut, USA-32 dikenal dengan nama FARRAH III. Rangkaian satelit FARRAH dinamai berdasarkan aktris Farrah Fawcett. FARRAH III memiliki desain yang berbeda dari satelit FARRAH generasi sebelumnya, yang berukuran lebih kecil dan berbentuk kotak.

Satelit itu berbentuk silinder besar dan pendek, menyerupai kaleng tuna. Perangkat tersebut dirancang untuk menangkap emisi frekuensi radio, termasuk komunikasi dan sinyal elektronik lainnya.

Misi menangkap sinyal Uni Soviet

NRO baru-baru ini membuka sebagian informasi mengenai program FARRAH melalui dokumen yang telah dideklasifikasi. Berdasarkan dokumen tersebut, misi utama program itu adalah menangkap emisi radar Uni Soviet serta mengumpulkan sinyal pada rentang frekuensi 2 hingga 18 GHz.

Waktu pasti berakhirnya operasi USA-32 belum diketahui. Namun, menurut The Space Review, satelit tersebut masih terpantau berada di orbit pada 2021. Tidak ada informasi dalam laporan tersebut yang memastikan apakah satelit masih aktif atau hanya menjadi objek tak beroperasi ketika terakhir kali terdeteksi.

Beberapa hari setelah pecah, perusahaan pelacak satelit swasta s2a systems mendeteksi sejumlah serpihan yang tersebar di orbit rendah Bumi. Puing-puing itu kemudian menjadi bagian dari objek yang dipantau Space Force untuk menilai potensi risikonya terhadap lingkungan orbit.

Source link