Anduril Garap Headset AR Super Canggih untuk Militer AS
Jakarta, CNBC Indonesia – Hubungan geopolitik global yang kian memanas memicu perlombaan teknologi pertahanan yang masif. Perusahaan teknologi pertahanan AS, Anduril, dilaporkan tengah mengembangkan perangkat inovatif berupa headset augmented reality (AR) super canggih untuk militer Amerika Serikat (AS). Guna merealisasikannya, Anduril menggandeng raksasa teknologi Meta Platforms milik Mark Zuckerberg.
Headset ini bukan sekadar perangkat visual biasa, melainkan dirancang dengan kemampuan andal untuk medan perang masa depan. Perangkat ini terintegrasi dengan sistem canggih yang mampu memerintahkan serangan drone pembunuh hanya melalui pelacakan gerakan mata (eye tracking) dan perintah suara (voice command).
Optimalkan Visi ‘Manusia sebagai Sistem Senjata’
Wakil Presiden Anduril, Quay Barnett, yang juga mantan personel Komando Operasi Khusus Angkatan Darat AS, memimpin langsung proyek ambisius ini. Barnett mengungkapkan bahwa tujuan fundamental dari inovasi ini adalah mengoptimalkan visi ‘manusia sebagai sistem senjata’ yang terinspirasi dari konsep cyborg.
Melalui teknologi ini, Anduril ingin mengintegrasikan prajurit lapangan dan drone dalam satu ekosistem operasi militer. Keduanya dapat berbagi informasi tanpa hambatan (seamless) dan mengeksekusi keputusan taktis secara instan.
Alur Kerja Senjata Masa Depan AS
Saat ini, Anduril tengah menggarap dua proyek utama. Pertama, proyek Soldier Born Mission Command (SBMC) milik Angkatan Darat AS, di mana Anduril sukses mengamankan kontrak prototipe senilai US$ 159 juta pada 2025 lalu. Dalam proyek ini, Anduril memodifikasi headset AR besutan Meta agar bisa dipasang langsung pada helm militer standar.
Kedua, proyek mandiri bernama ‘EagleEye’ yang diumumkan pada Oktober 2025. Proyek bernilai komersial tinggi ini mendesain kombinasi helm dan headset yang terintegrasi penuh. Anduril optimistis militer AS pada akhirnya akan memborong inovasi ini.
Teknologi Canggih Masa Depan
Secara teknis, headset ini akan menampilkan informasi taktis langsung di atas bidang pandang prajurit. Mulai dari yang sederhana seperti kompas digital, peta navigasi area perang yang kompleks, posisi terbang drone terdekat, hingga pengenalan target berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi objek seperti truk militer musuh.
Menariknya, sistem ini didukung oleh teknologi Large Language Models (LLM) yang tengah diuji coba menggunakan berbagai platform. Seluruh sistem digerakkan oleh software utama milik Anduril yang bernama Lattice. Platform ini bertugas menyatukan data dari berbagai perangkat keras militer menjadi satu gambaran utuh.
Risiko dan Ancaman yang Mungkin Terjadi
Meski menawarkan kecanggihan mutakhir, inovasi ini bukan tanpa celah. Mantan marinir AS, Jonathan Wong, menilai teknologi ini berpotensi memberikan beban kognitif berlebih (information overload) bagi prajurit di garda terdepan yang sudah berada dalam tekanan tinggi di medan laga.
Namun, Anduril meyakinkan bahwa penggunaan perintah suara dan pelacakan mata justru dirancang untuk meminimalisasi hambatan tersebut. Selain itu, demi mematuhi regulasi kontrak militer federal AS, seluruh komponen perangkat dipastikan menggunakan rantai pasokan baru yang bersih dari keterlibatan perusahaan asal China.
Anduril siap bersaing dengan pemain lain dalam industri ini, dan Pentago memandang serius untuk mendominasi peta konflik geopolitik global dengan teknologi canggih yang mereka kembangkan.












