Catatan Sejarah Harimau Jawa: Tradisi Rampogan Hingga Kehadiran Masa Kini
Sebelum keberadaannya dinyatakan punah pada tahun 1976, harimau Jawa telah menjelajah hutan-hutan dengan bebas. Bahkan pada abad ke-19, harimau Jawa sering menjadi bagian dari tradisi Rampogan, di mana hewan tersebut diadu melawan kerbau. Tradisi ini biasanya digunakan sebagai cara untuk menyambut kedatangan tamu dari Eropa, terutama Belanda.
Selain dijadikan sebagai pertunjukan untuk tamu, seringkali harimau Jawa juga menjadi objek tombak bagi penonton. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah populasi harimau Jawa karena banyak yang terbunuh dalam acara tersebut. Seiring berjalannya waktu, tradisi Rampogan bukan lagi hanya seremonial, melainkan sudah menjadi hiburan masyarakat dengan cara menangkap harimau Jawa dari habitat aslinya untuk dijadikan objek adu lawan kerbau.
Konflik Antara Harimau Jawa dan Manusia
Penelitian yang dilakukan oleh R. Wessing yang berjudul The Last Tiger in East Java: Symbolic Continuity in Ecological Change, menunjukkan konflik antara harimau Jawa dan manusia semakin meningkat pada abad ke-19. Hal ini disebabkan oleh pembukaan lahan baru yang membuat habitat alami harimau Jawa terganggu, sehingga meningkatkan serangan harimau Jawa terhadap manusia maupun hewan ternak.
Perkiraan menyebutkan bahwa setidaknya 2.500 orang tewas akibat serangan harimau Jawa setiap tahunnya, yang kemudian membuat pemerintah kolonial mulai melakukan pembasmian harimau Jawa secara massif. Hal ini menyebabkan jumlah populasi harimau Jawa menurun drastis dari ribuan ekor menjadi hanya 200-300 ekor ketika Indonesia meraih kemerdekaannya.
Eksistensi Harimau Jawa Hingga Masa Kini
Pada tahun 1976, harimau Jawa dinyatakan punah, namun belum lama ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan analisis terbaru dari sampel rambut yang diduga berasal dari Harimau Jawa sejak tahun 2019. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa rambut tersebut benar-benar berasal dari Harimau Jawa, yang berarti kemungkinan harimau Jawa masih hidup dan berkeliaran di pedalaman hutan Sukabumi, Jawa Barat.












